WORTEL, TELUR DAN KOPI
WORTEL, TELUR DAN KOPI

WORTEL, TELUR DAN KOPI
WORTEL, TELUR DAN KOPI
Hari ini senin tanggal 8 Februari 2010 aku buka yahoo, eh disana tertulis undangan untuk menghadiri pengumuman lomba bloger Pesona kuliner sekitar semarang. Yang kupikirkan sebenarnya hadir ngak ya acara itu?? aku pikir kalau aku adir pasti di sana ada pengalaman baru…pasti bisa ketemu dengan kawan2 sesama bloger. Tapi kalau aku hadir pasti dech acaraku rutin di sekolah pasti terganggu. masalahnya pasti acaranya sampai malam dan pasti ngantuk paginya., karena aku harus pulang ke pamotan terlambat. Soooo jadi berangkat ngak yaaa?
MGMP IPA pada tanggal 22 Desember 2009 s.d 16 Januari 2010 melaksanakan Pelatihan ICT. Pelatihan ini di fokuskan untuk sekolah-sekolah daerah terpencil di Kab. Rembang. Pelatihan ini dilaksanakan bertujuan agar guru IPA di kabupaten Rembang dapat menggunakan fasiltas komputer untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah masing-masing. Kegiatan pelatihan diikuti oleh 36 Participan teacher dan dipandu oleh 6 Master Teacher. Kegiatan dilaksanakan dengan sangat baik, hal ini dapat dilihat dari antusiasnya para peserta dalam melaksanakan pelatihan.
MELALUI AGUPENA SAYA INGIN BERJUANG
DENGAN BUKU UNTUK
MENINGKATKAN DAYA NALAR ANAK DIDIK
Oleh
TRI BUDIYONO, S.Pd.
(Guru SMP 1 Pamotan dan Penulis)
Saya telah bekerja selama 15 tahun menjadi guru. Sebenarnya saya telah memulai belajar secara khusus tentang bagaimana membaca dan menulis serta “mengemas” buku sehingga buku itu dapat membangkitkan selera seseorang untuk membaca dan memahaminya. Saya ingin menggunakan kemampuan saya yang saya pelajari sehingga saya mampu menyusun buku yang dapat digunakan dan disenangi para pembaca. Secara khusus, saya ingin menyusun, menyajikan dan mengemas materi buku yang mudah dipahami dan mampu membangkitkan daya nalar anak.
Pengalaman saya selama menjadi guru saya telah bertemu dengan materi buku pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah—seperti matematika, sejarah, kimia, fisika, bahasa, dan lain-lain—sebagian besar materinya, dari dahulu hingga sekarang, tidaklah banyak berubah. Jika toh berubah, perubahan itu tidak sangat signifikan meskipun kurikulum di sekolah juga berubah. Oleh sebab itu, dalam pembahasan saya ini, saya ingin lebih menitikberatkan pada , yaitu bagaimana isi buku itu disajikan dan dikemas sehingga menarik para pengguna buku. Lebih jauh, saya ingin sekali buku-buku yang saya susun tidak hanya sekadar menjadi pedoman guru dan murid dalam mempelajari sesuatu. Tetapi Saya ingin buku-buku saya dapat menyenangkan para pembaca sehingga para pembaca (siswa, Guru, masyarakat pembaca) bisa terbangun nalarnya, menjadi pintar, cerdas sekaligus gemar membaca.
Untuk meraih keinginan saya tersebut, tentu saja saya harus berkarya. Disamping itu saya juga harus memperjuangkan keinginan tersebut melalui wadah perjuangan para penulis. Sebenarnya di Indonesia telah berdiri beberapa asosiasi penulis. Tetapi asosiasi penulis yang komunitasnya sebagai guru dan penulis baru November tahun 2006 terbentuk, ini saja penyebaran informasi sangat terbatas hanya pada para pemenang sayembara penulisan buku di tingkat pusat, bahkan di level propinsi baru beberapa propinsi yang membentuk bahkan dapat dihitung dengan jari.
Di Propinsi Jawa Tengah ke depan telah memiliki rencana untuk memwujudkan asosiasi ini, Oleh karena itu saya ingin masuk menjadi anggota asosiasi guru penulis seluruh Indonesia (AGUPENA) cabang Jateng.
Melalui AGUPENA saya berharap mampu berinteraksi, berkolaborasi, menyatukan pikiran agar saya ke depan mampu menyusun buku dengan menyajikan materi yang benar-benar bermanfaat para pembaca. Saya ingin sekali tentang isi materi buku saya dengan perkembangan-perkembangan baru tentang riset otak. Kita semua pas bahwa belajar—lebih khusus lagi membaca buku—sangat terkait dengan otak (brain). Apabila kita memahami bagaimana cara kerja otak dan menyesuaikan penyajian dan pengemasan buku sesuai dengan cara kerja otak, saya yakin bahwa kegiatan belajar—khususnya lagi, membaca buku—dapat diselenggarakan secara sangat efektif dan menyenangkan. Sebagai contoh ketika saya menyusun materi berhitung angka, saya ingin menuliskan bagaimana menulis langkah-langkah berhitung angka sesuai dengan konsep yang sudah ada di samping itu saya juga memasukkan terobosan-terobosan baru akan teori berhitung angka.1
Berpijak pasa riset Sperry dan Gardner, saya ingin sekali menyajikan dan mengemas buku yang dapat membuat otak senang. Tahun 2007, saya telah memulai menulis buku hingga saat ini saya telah menulis 3 judul buku. Buku saya bukan buku fiksi dan bukan buku yang membahas tema-tema yang ringan. Beberapa buku saya—antara lain Mahir Berhitung dengan Jari Tangan, Kreasiku dalam Mengajar IPA, dan Metode HANDTRyMATIKA dan Formula Matematika—menjadi bestseller (antara bulan Januari 2008 hingga 2009 dibaca oleh 100.000 pembaca). Saya percaya bahwa salah satu penyebab beberapa buku saya diminati oleh pasar karena saya “mengemas” buku-buku saya tersebut dengan cara-cara yang tidak konvensional disamping system pemasaran yang sangat baik.
Di bagian ini, saya akan menyampaikan bagaimana “mengemas” buku saya. Saya berharap, apa yang saya sampaikan ini dapat bermanfaat bagi para pengemas (khususnya penerbit) buku pelajaran.
Otak dan Kegiatan Membaca Buku Pelajaran
Riset-riset otak mutakhir menunjukkan betapa membaca itu terkait dengan kebugaran otak. Namun, bukan soal manfaat ini yang akan saya bahas di sini. Saya hanya ingin menunjukkan betapa peran buku tidak hanya membantu para siswa untuk belajar secara sistematis tentang materi pelajaran yang ingin dipelajarinya. Buku yang jumlahnya puluhan dan senantiasa berada di dekat mereka ketika mereka belajar dapat membuat para siswa menyala otaknya. Tentu, sebuah buku akan membantu menyalakan otak seorang siswa apabila buku tersebut benar-benar dapat membuatnya senang dan nyaman.
Memang, belum ada riset khusus tentang apakah buku pelajaran itu menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi para siswa. Namun, saya yakin—dengan ditemukannya banyak sisi menakjubkan dari otak kita—buku-buku pelajaran di masa sekarang dapat disajikan sesuai dengan cara bekerjanya otak manusia. Apabila sebuah buku pelajaran dapat disajikan dan dikemas sedemikian rupa sehingga sesuai cara kerja otak, ada kemungkinan para pembaca buku pelajaran dapat lebih senang ketika menjalankan kegiatan membaca.
Temuan Roger Sperry, tampaknya, telah memberikan inspirasi bagi dua buku bestseller, Quantum Learning (Kaifa, 1999) dan The Learning Revolution (diterjemahkan dan diterbtikan oleh Penerbit Kaifa dengan judul Revolusi Cara Belajar). Baik Quantum Learning dan The Learning Revolution secara ekstrem mengubah penampilan sebuah buku yang biasanya sisi halaman kiri dan kanannya sama. Kedua buku tersebut membedakan tampilan halaman kiri dan kanan hampir di seluruh halaman. Satu sisi halaman diisi oleh deretan teks sebagaimana buku biasa, sementara sisi halaman lainnya diisi dengan ilustrasi/gambar atau kata-kata yang membangkitkan semangat.
Sperry menunjukkan kepada kita bahwa belahan otak kiri sifatnya logis dan belahan otak kanan intuitif. Apabila secara sadar kita menggunakan otak kiri untuk belajar, kita akan merasakan bahwa otak kiri ini akan bekerja sebagai berikut: menyukai hal-hal yang berurutan; belajar secara maksimal dari hal-hal yang bersifat detail lebih dahulu; menyukai sistem membaca yang berdasarkan pada fonetik; menyukai kata-kata, simbol, dan huruf; menyukai sesuatu yang terstruktur dan dapat diprediksi; mengalami lebih banyak fokus internal; dan ingin mengumpulkan informasi yang faktual. Sebaliknya dari itu, otak kanan akan bekerja sebagai berikut: lebih suka dengan hal-hal yang bersifat acak; belajar secara maksimal dengan pemahaman global lebih dahulu, baru kemudian ke hal-hal detail; lebih menyukai sistem membaca yang bersifat menyeluruh; menyukai gambar dan grafik; lebih suka melihat dahulu atau mengalami sesuatu; ingin mengumpulkan informasi mengenai hubungan antarpelbagai hal; lebih menyukai lingkungan yang bersifat spontan dan alamiah; mengalami lebih banyak fokus eksternal; dan ingin pendekatan yang bersifat terbuka, baru, dan memberikan kejutan-kejutan yang menantang.
Bayangkan apabila sebuah buku pelajaran dapat disajikan dan dikemas sedemikian rupa sehingga mampu diakses oleh otak kanan dan otak kiri secara sinergis?
Dalam buku Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah (MLC, 2004), saya terinspirasi oleh gagasan Gardner tentang adanya banyak tipe kecerdasan yang dimiliki seseorang. Menurut Gardner, kecerdasan merupakan kumpulan kepingan kemampuan yang ada di beragam otak. Semua kepingan ini saling berhubungan, tetapi juga bekerja sendiri-sendiri. Dan yang terpenting, kata Gardner lebih jauh, mereka tidak statis atau ditentukan saat lahir. Seperti otot, kecerdasan dapat berkembang sepanjang hidup asal terus dibina dan ditingkatkan.
Saya membayangkan bahwa sebuah buku pelajaran dapat dikemas sedemikian rupa sehingga dapat merangsang seluruh tipe kecerdasan yang saat ini telah ditemukan oleh Gardner. Ada sembilan tipe kecerdasan yang ditemukan oleh Gardner, yaitu kecerdasan (1) spasial atau gambar, (2) bahasa, (3) interpersonal, (4) intrapersonal, (5) musik, (6) natural (alam), (7) tubuh (kinestetik), (8) matematika (logis), dan eksistensial (mencari makna). Setiap tipe kecerdasan ini dapat bekerja secara sendiri-sendiri dan dapat saling membantu atau mempengaruhi. Apabila seorang anak lemah dalam kecerdasan matematika, misalnya, namun kecerdasan musiknya menonjol, maka kecerdasan musik dapat membantu anak itu untuk membangkitkan kecerdasam matematikanya.
Menurut teori kecerdasan majemuk, sebuah pembelajaran akan mengasyikkan bagi setiap anak apabila dalam pembelajaran tersebut digunakan pelbagai cara yang mampu merangsang seluruh tipe kecerdasan yang ada. Masing-masing tipe kecerdasan—terutama kecerdasan yang sangat menonjol—seolah-olah merupakan sebuah “jalan” yang digunakan oleh seorang anak untuk belajar sesuai karakter dirinya. Prinsip-prinsip kecerdasan majemuk inilah yang kemudian saya coba ambil dan olah untuk menjadikan sebuah buku pelajaran dapat menyenangkan seorang anak. Ia dapat menyenangkan karena di dalam buku pelajaran tersebut ada banyak cara yang bisa digunakan si pengguna buku pelajaran untuk mengakses materi yang dikandungnya. Tujuan lain saya dengan memanfaatkan teori kecerdasan majemuk dalam mengemas buku pelajaran adalah untuk merangsang seluruh area atau kepingan otak yang di dalamnya tersimpan pelbagai tipe kecerdasan.
Bagaimana Mengeksplorasi “Context” Buku Pelajaran
Salah satu medium-penting yang digunakan untuk menyerap ilmu dari sebuah buku adalah bahasa. Oleh sebab itu, baik-buruk dan menyenangkan-tidak menyenangkannya sebuah buku sangat bergantung pada bahasa-tulis yang digunakan oleh buku tersebut. Apabila bahasanya ruwet, berantakan, dan kaku, ada kemungkinan sebuah buku tidak akan mampu memberdayakan pembacanya. Bahasa-tulis yang indah, menggugah, dan mencerahkan penalaranlah yang akan mampu—meminjam kata-kata Prof. Dr. Fuad Hassan—“memperkaya dan mempercanggih gagasan dan wawasan” seseorang.
Apabila kita ingin berbicara dan mengeksplorasi context buku pelajaran, mau tidak mau kita harus memperhatikan penggunaan bahasa-tulis. Context yang berkaitan dengan bahasa-tulis ini dapat sangat banyak dan beragam. Misalnya, bahasa-tulis yang digunakan untuk menyampaikan isi, apakah telah menggunakan bahasa emosi, bahasa yang mengalir dan enak dibaca sekaligus menyentuh? Bagaimana pula dengan penciptaan judul-judul buku (yang diletakkan di sampul depan), lantas judul-judul bab dan sub-subjudul, apakah juga sudah dipoles sedemikian rupa sehingga tidak rigid dan terkesan mekanis?
Dalam buku Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Membuat Buku, saya menekankan betul pentingnya bahasa-tulis yang bercerita (mengalir) dan menggugah. Apabila seorang penulis buku pelajaran ingin memiliki kemampuan untuk menyusun bahasa-tulis yang mengalir dan menggugah, dia harus membaca banyak buku yang sangat kaya dan beragam. Mustahil kemampuan menulis secara mengalir dan menggugah ini dapat dimiliki oleh seorang penulis apabila dia tidak membaca buku yang sangat kaya dan beragam. Bagi saya, membaca adalah menyerap kata-kata untuk disimpan di dalam diri, dan menulis adalah mengeluarkan hal-hal yang di batin lewat bantuan kata-kata yang telah tersimpan di dalam diri.
Setelah bahasa kata, context yang perlu digarap secara total adalah bahasa rupa atau bahasa visual. Bahasa visual adalah bahasa untuk otak kanan. Bahasa visual bukan sekadar menempel atau menambah gambar di dalam sederetan teks. Dalam kata-kata Milly R. Sonneman—penulis buku Mahir Berbahasa Visual—bahasa visual ini disebut sebagai “fasilitasi grafis”. Kemampuan seorang desainer dalam memfasilitasi grafis ini akan menjadikan sebuah buku dapat meningkat kekuatan komunikasinya. Sederetan teks yang disertai gambar yang lucu dan menyentuh bisa jadi akan lebih mudah dicerna dan dipahami. Ringkasnya, bahasa visual akan memungkinkan sebuah buku dapat didekati dari “pintu” yang lain.
Hal terakhir yang ingin saya usulkan dalam mengeksplorasi context buku pelajaran adalah bagaimana membuat buku pelajaran tersebut tampil interaktif. Dalam buku-buku karya saya, kesan interaktif itu saya munculkan dalam “boks” yang saya sebut sebagai wadah untuk “mengikat makna”. Dalam buku-buku pelajaran, meskipun saya tahu ada beberapa buku pelajaran yang sudah menyediakan wadah untuk “mengikat makna” dalam bentuk yang lain, bisa secara khusus disediakan wadah “mengikat makna” dan diberi penjelasan tentang pentingnya mengonstruksi materi yang sudah dipahami dari kegiatan membaca.
Semoga bermanfaat.[]

Pelatihan Handtrymatika