KONSEP PENGEMBANGAN MINAT DAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK SERTA IMPLEMENTASINYA DALAM

PEMBELAJARAN SAINS

 Oleh

TRI BUDIYONO

SMP 1 PAMOTAN

 

ABSTRAK

 

Minat pada seseorang akan muncul karena ada rasa tertarik pada bidang tertentu yang didukung oleh rasa senang dalam bidang yang ditekuninya dan tergantung pada bakat serta lingkungan. Hal tersebut bisa saja muncul karena ada kebutuhan dan kesungguhan mendasar yang disebut motivasi. Minat dan motivasi perlu dikembangkan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Di sekolah guru harus memfasilitasi peserta didik agar mencapai tujuan yang diharapkan. Guru sekarang dan yang akan datang adalah guru yang inovatif, kreatif, efektif, dan mampu membaca kekinian untuk diaplikasikan dalam pembelajarannya. Guru profesional dalam koridor sains merupakan sosok guru yang menerapkan pengatahuannya dalam pembelajaran berbasis inquiri.

 

 

A. PENDAHULUAN

     1.   Latar Belakang Masalah

             Perkembangan peserta didik merupakan proses menuju tercapainya kedewasaan atau tingkat yang lebih sempurna pada suatu individu dan bersifat kualitatif. Perkembangan merupakan proses yang berjalan sejajar dengan pertumbuhan dan sulit untuk dipisahkan. Faktor-faktor uang mempengaruhinya yaitu faktor internal dan faktor eksternal (lingkungan).

             Faktor lingkungan bisa saja berarti didapatkan dari dalam rumah dan sekolah melalui interaksi sosial. Hubungannya dengan pendidikan, sekolah merupakan pusat pengembangan peserta didik, guru dan lainnya, artinya sekolah berfungsi sebagai tempat pemberdayaan masyarakat dan sekolah juga harus dapat melakukan pengembangan dan perubahan transformasional kurikulum diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar dan mengajar.

             Disisi lain Anak usia sekolah tentunya perlu untuk belajar, entah mengulang kembali pelajaran yang sudah diberikan di sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah (PR)  ataupun mempelajari hal-hal lain di luar pelajaran sekolah.  Pentingnya belajar tanpa harus dibicarakan panjang lebar pasti sudah disadari oleh seluruh orangtua.

             Keluhan yang datang dari orangtua pada umunya lebih banyak menyangkut anaknya terlalu banyak bermain daripada orangtua yang anaknya terlalu banyak belajar. Bahkan kalau anak sangat rajin belajar, pastilah orangtua memamerkannya ke orang-orang dengan nada bangga, “Iya loh Bu Retno, anak saya itu belajarnya rajin sekali. Pulang sekolah belajar, bangun tidur siang belajar, terus malam kalau bapaknya sudah pulang ya belajar lagi. Makanya anak saya itu pintar sekali, apa-apa tahu. Kadang-kadang malah saya yang nggak tahu”. 

             Lain lagi kalimatnya jika anak terlalu banyak bermain, “Aduuuuuuh Bu TrI, anak saya ini kerjanya main melulu…. Siang main, sore main, malam juga main. Saya dan bapaknya kalau mau menyuruh dia belajar, harus teriak-teriak dulu, mengancam dulu, baru dia mau belajar. Pusing saya jadinya. Sudah begitu perkalian saja tidak hafal”. Makanya saya memaksannya membeli buku HANTRyMATIKA dari Pak Tri Budi  biar punya bekal  berhitung di kemudian hari.

Tetapi keluhan tentang lemahnya minat belajar anak juga dapat ditimbulkan ketika anak berhadapan dengan guru dan biasanya yang sering terjadi di lingkungan sekolah  berkaitan kriteria guru yang mereka sukai yang dapat meningkatkan minat belajar mereka.

“Ibu guru Gao seperti ibu bagiku. Dia mendengar semua masalah dan keluh kesah kami dan membantu kami menyelesaikan masalah” kata Zhang Qi, siswa kelas 3 SMP.

             “Guru Syam selalu melucu dalam kelas, menulis nama kami dan membuat kami semangat dalam pelajaran itu, tanpa saya sadari, saya jadi sangat suka menulis dan secara bertahap, saya mempelajari beberapa trik untuk menulis dengan baik.” Ujar Shi Yuzing.

Tatang siswa kelas 2 SMP  menggambarkan lebih jauh tentang kriteria guru yang sangat diminatinya, ”Guru Hendra, ia memperlakukan tiap siswa dengan setara. Dalam kebaikan hatinya, dia tidak pernah memihak, kami merasa santai dan hidup (bersemangat). Dia selalu tanpa sengaja mengajukan pertanyaan atau membuat kesalahan akan kami dapat membetulkannya. Jika kami mengatakan yang salah, dia tidak menyalahkan kami. Dia bahkan akan berkata sambil tersenyum. “kesalahan yang bagus!  Kesalahan akan membantu kami menemukan masalah-masalah”. Tidak seberapa lama kemudian, siswa yang paling pemalupun mau mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan”.

“Guru kami tahu nama kami, dia menghormati anak-anak, dia selalu memanggil kami ilmuwan kecil” dan memperhatikan tiap siswa ketika mengajar”, ujar seorang anak laki-laki dari kelompok lain.

“Guru yang asyik, bisa ngerti anak didiknya, ngajar serius, berjiwa muda” ucap Ashari.

“Yang enak cara ngajarnya, enak cara ngomognya dan pastinya enggak galak. Serta bisa gaul sama anak-anaknya”, kata Nugraha dan Abidah menimpali lagi,

“Kalo aku sih suka sama guru yang bikin gemes, bahasanya enggak baku, yang santai, mengerti keadaanya kalau lagi bosen dan punya teknik ngajar yang seru”

          2.  Permasalahan

Dari beberapa kutipan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa mereka memperbicangkan tentang minat dan motivasi belajar di rumah dan di dalam kelas dalam arahan orang tua dan bimbingan gurunya. Mengapa pada siswa malas belajar? Jadi sebetulnya apa pengertian dari minat dan motivasi itu sebenarnya? Dan bagaimana mengembangkan minat dan motivasi belajar peserta didik?

 

B. PEMBAHASAN

Kalau anak enggan belajar, tentunya perlu dicari tahu sebab-musababnya, baru kemudian diambil suatu tindakan. Beberapa sebab mengapa anak enggan belajar, diantaranya adalah sebagai berikut:

1.   Kurangnya waktu yang tersedia untuk bermain.

2.   Sedang punya masalah di rumah (misalnya suasana di rumah sedang “kacau” karena ada adik baru).

3.   Bermasalah di sekolah (tidak suka/phobia sekolah, sehingga apapun yang berhubungan dengan sekolah jadi enggan untuk dikerjakan).

4.   Sedang sakit.

5.   Sedang sedih (bertengkar dengan teman baik, kehilangan anjing kesayangan)

6.   Tidak ada masalah atau sakit apapun, juga tidak kurang waktu bermain (malahan kebanyakan), hanya memang MALAS.

Malas Belajar

Dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Muhammad Ali, malas dijabarkan sebagai tidak mau berbuat sesuatu, segan, tak suka, tak bernafsu. Malas belajar berarti tidak mau, enggan, tak suka, tak bernafsu untuk belajar.

Kalau anak-anak tidak suka belajar dan lebih suka bermain, itu berarti belajar dianggap sebagai kegiatan yang tidak menarik buat mereka, dan mungkin tanpa mereka sadari juga dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya/untungnya karena bagi anak-anak tidak secara langsung dapat menikmati hasil belajar. Berbeda dengan kegiatan bermain, jelas-jelas kegiatan bermain menarik buat anak-anak, dan keuntungannya dapat mereka rasakan secara langsung (perasaan senang yang dialami ketika bermain adalah suatu keuntungan).

 

     KONSEP MINAT DAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

Dalam dunia pendidikan terdapat beberapa faktor yang turut andil untuk menentukan berhasil atau tidaknya suatu lembaga pendidikan dalam hal ini disebut sekolah. Salah satu faktor pendidikan yang terdapat di sekolah adalah minat belajar peserta didik, karena minat adalah sebagai penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan.

Ada definisi tentang pengertian minat belajar yang dikemukakan oleh para ahli dalam pendidikan. JP. Guilford (1969; 206) menyampaikan bahwa minat dapat dikatakan sebagai kecenderungan seseorang untuk berperilaku atas ketertarikannya dengan jenis – jenis kegiatan tertentu. Kemudian dilengkapi oleh Lester D. Crow & Crow (1973; 248), bahwa minat merupakan kekuatan yang mendorong individu dalam memberi perhatian terhadap suatu kegiatan tertentu, dengan kata lain minat menjadi sebab partisipasi dalam kegiatan. Ditambahkan lagi oleh Charles E. Skinner (1977;337) yaitu minat belajar terbentuk melalui pengalaman, biasanya minat dikatakan sebagai dorongan yang menunjukkan perhatian individu terhadap objek yang menarik atau menyenangkan. Hal tersebut disederhanakan pemaknaannya oleh Gilbert Sax (1980;473) bahwa minat adalah kecenderungan memilih suatu kegiatan dibandingkan dengan kegiatan lainnya dan disempurnakan lagi oleh  Elizabeth B.Hurlock (1981;422) minat tidak dibawa sejak lahir tapi terbentuk melalui pengalaman.W.S Winkel (1983;30) mengembangkan pengertian minat. Dia beranggapan bahwa minat belajar adalah kekuatan yang mendorong individu dalam memilih kegiatan yang menyenangkan yang terbentuk sebagai hasil dari pengalaman belajar yaitu ; 1) Pengulangan dalam pembelajaran untuk memperoleh minat baru, 2) Identifikasi seseorang yang dikagumi, 3) Bimbingan dan pengarahan, dengan memilih metode, strategi tertentu. Berkaitan dengan yang ketiga harus ditunjang oleh teori-teori psikologi, sebagai berikut:

a) Pengkondisian dan penguatan

b) Belajar melalui observasi dan keteladanan

c) Komunikasi yang persuasif

Dari beberapa pengertian tentang minat tersebut, dapat disimpulkan bahwa minat dalam pendidikan dapat diartikan sebagai dorongan-dorongan dari dalam diri peserta didik secara psikis dalam mempelajari sesuatu dengan penuh kesadaran, ketenangan dan kedisiplinan, sehingga menyebabkan individu secara aktif dan senang untuk melakukannya.

Ditegaskan lagi bahwa korelasi antara minat belajar dengan pendidikan adalah suatu hal yang  tidak dapt dipisahkan, karena minat belajar merupakan sebagian dari faktor pendidikan yang sangat penting dan juga sebagai kunci pokok keberhasilan untuk mencapai tujuan  pendidikan, dengan kata lain minat belajar yang tinggi adalah faktor pendukung pendidikan yang sangat penting.Dari pendapat itu sehingga muncul anggapan bahwa orang yang benar-benar terdidik ditandai oleh adanya minat belejar yang besar terhadap hal-hal yang bernilai atau bermanfaat bagi dirinya.

Berdasarkan pendapat, anggapan dan teori diatas, maka dapat diambil pengertian  bahwa fungsi dari minat belajar dalam pendidikan adalah sebagai motor penggerak untuk melakukan perbuatan, sebagai penentu arah perbuatan dan penyelesaian perbuatan-perbuatan yang harus dijalankan dan dilakukan sehingga serasi dengan target yang hendak dituju dan mengesampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Hal-hal yang mendasari minat peserta didik dapat digolongkan menjadi tiga faktor yaitu:

1.      Faktor dorongan dari dalam yaitu faktor yang berhubungan erat dengan dorongan fisik yang merangsang individu untuk mempertahankan dirinya dari rasa sakit, lapar dan berkaitan dengan kebutuhan fisik lainnya.

2.      Faktor motif sosial yaitu yang dapat meningkatkan minat untuk melakukan aktifitas tertentu demi memenuhi kebutuhan sosial.

3.      Faktor emosi yaitu faktor perasaan yang erat hubungannya dengan objek tersebut dan kemudian berhasil dengan sukses akan menimbulkan perasaan senang dan puas.

Menurut Crow & Crow, penetapan minat peserta didik terhadap suatu objek tidak terjadi begitu saja, hal ini bergantung kepada beberapa faktor. Minat tersebut memiliki ketergantungan yang besar pada faktor-faktor internal lainnya seperti:

a.             Pemusatan perhatian

b.             Keingintahuan

c.              Kebutuhan

d.             Motivasi

Menurut Muhibin Syah, motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti ”dasarnya” atau penggerak. Motivasi yang terdapat pada individu akan mewujudkan suatu perilaku untuk memenuhi “keinginan atau kebutuhannya”. Motivasi ditimbulkan oleh tenaga-tenaga yang berasal dari dalam maupun luar dari seseorang. Tenaga-tenaga terseut dapat dibedakan menjadi beberapa istilah yaitu “desakan (drive)”, “motif” (motive), “keinginan (wish)”, “kebutuhan (need)” desakan diartikan sebagai dorongan yang mengarah kepada pemenuhan kebutuhan jasmani. Motif merupakan dorongan yang mengarah kepada pemenuhan kebutuhan rohani. Kebutuhan merupakan suatu keadaan yang dirasakan oleh individu karena terdapat kekurangan. Sedangkan keinginan merupakan harapan seseorang untuk memiliki sesuatu yang dibutuhkan.

Kuatnya motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya. Kajian tentang motivasi memiliki daya tarik bagi kalangan pendidik terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja prestasi dan profesionalisme seseorang.

Motivasi pada seseorang akan mewujudkan suatu perilaku untuk memenuhi suatu keinginan atau kebutuhannya. Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan, yaitu dimotivasi oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi meliputi pengarahan perilaku, berkaitan dengan perilaku dan kinerja, pengarahan kearah tujuan, faktor-faktor fisiologi, psikologi dan lingkungan sebagai faktor-faktor yang penting.

Berikut ini adalah pemahaman dari beberapa teori mitivasi sebagai berikut :

1.      Teori Antribusi (Variabel tugas) Weiner

              Weiner berpandangan tentang motivasi dilatarbelakangi pendapat Alkison yang menyatakan bahwa motivasi meripakan variable tugas dan disposisi individu untuk mencapai keberhasilan. Dari variable tugas ini Weiner mengganggap motivasi merupakan proses internal yang bertindak sebagai perantara stimulus tugas dan tingkah laku berikutnya. “Siswa yang berprestasi lebih baik maka motivasinya lebih tinggi dari mereka yang prestasinya lebih rendah.” 

             Namun demikian Weiner tetap berpandangan bahwa variable tugas dan hasil belajar setiap orang pasti berbeda. Keberhasilan,

 

kegagalan dan hubungan konseptual antara sebab akibat antara sebab akibat antara hasil dan tingkah laku berikutnya lebih dipengaruhi oleh 4 hal yaitu (1) kemampuan, (2) Usaha, (3) kesulitan tugas dan (4) kemujuran.      

    

2. Teori Kebutuhan ( Abraham Maslow)

 Abraham H. Maslow (1954), Memiliki pemahaman bahwa manusia memiliki lima tingkatkan atau hirarki kebutuhan. Adapun pemahaman itu antara lain :

a.      Kebutuhan fisiological seperti rasa lapar, haus, istirahat dan sex

b.      Kebutuhan rasa aman tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual,

c.      Kebutuhan akan kasih sayang,

d.      Kebutuhan akan harga diri, umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status,

e.      Aktualisasi diri

Selanjutnya Maslow memvisualisasikan teorinya dengan cara membaginya menjadi kebutuhan tingkat tinggi dan kebutuhan tingkat rendah. Kebutuhan tingkat tinggi adalah kebutuhan yamg dipenuhi secara internal yaitu kebutuhan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri, dan kebutuhan tingkat rendah adalah kebutuhan yang dipenuhi secara eksternal yaitu kebutuhan faal dan keamanan.

Pernyataan Maslow dilengkapi lagi oleh Mc.Clelland yang dikenal dengan teori kebutuhan berprestasi, menurutnya untuk mencapai prestasi atau Need of  Acievement (N.Ach), bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Kebutuhan akan prestasi adalah keinginan untuk :

a.      Melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan yang sulit

b.      Menguasai, memanipulasi atau yang mengorganisir obyek-obyek fisik, manusia atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin, sesuai kondisi yang berlaku,

c.      Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi, mencapai performa puncak untuk diri sendiri,

d.      Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain,

e.      Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil

Lain halnya pernyataan dari Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi menurut teori ini motivasi seseorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun external termasuk pada faktor internal adalah persepsi seseorang mengenai diri sendiri, yaitu  a) harga diri, b) harapan pribadi, c) kebutuhan d) keinginan, d) kepuasan kerja, d) prestasi kerja yang dihasilkan

Sedangkan faktor external mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah,a) jenis dan sifat pekerjaan, b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung, c) organisasi tempat bekerja, d) situasi lingkungan pada umumnya, e) sistem imbalan yang berlaku dan cara persyaratannya.

Dari uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi terdiri dari indikator; tekun menghadapi tugas, memerlukan dorongan dari luar, ingin mendalami bahan atau bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin, senang dan ingin belajar, penuh semangat, cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, senang mencari dan memecahkan soal-soal.

 

   KONSEP PENGEMBANGAN MINAT DAN MOTIVASI DALAM 

   PEMBELAJARAN

Sekolah yang berkualitas akan menjadikan tempat berkembangnya minat belajar peserta didik ketika telah diciptakan lingkungan belajar yang efektif oleh sekolah itu sendiri. Sekolah yang inovatif dan kreatif bisa menciptakan kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru. Guru juga harus berperan sebagai fasilitator dengan cara memotivasi peserta didik dengan mencontohkan model keterampilan penyelidikan sains agar peserta didik memiliki keingintahuan, kesibukan terhadap gagasan baru dan data serta skeptisme sains. Kalau tidak dapat, dipastikan peserta didik akan cepat bosan dalam mengikuti proses pembelajaran hal itu  jika;

1.      Yakin bahwa apa yang dipelajarinya bermanfaat bagi dirinya

2.      Yakin akan mampu memahami/menguasai pelajaran sains

3.      Situasi belajar yang menyenangkan

Yang perlu dilakukan oleh seorang guru untuk meningkatkan, membangkitkan dan mengembangkan motivasi belajar peserta didiknya yaitu memberikan:

1.      Keteladanan, artinya guru harus menunjukkan juga kerajinan dalam belajar

2.      Sertakan didik untuk merancang dan menyusun target

3.      Inovatif dan kreatif dalam menggunakan model pembelajaran

4.      Menyampaikan tujuan pembelajaran sebelum mulai pembelajaran

5.      Keyakinan bahwa motivasi sangat menentukan keberhasilan belajar peserta didik

6.      Kesempatan kepada peserta didik untuk berinteraksi dan saling kerja sama

7.      Keusahaan terjadinya sarana dan prasarana penunjang yang kondusif

Bentuk pembelajaran yang dapat memotivasi siswa antara lain guru harus,

1.   Membuat pembelajaran penuh arti. Kaitkan bahasan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik dan tunjukkan manfaatnya untuk masa depan mereka

2.   Membantu peserta didik menentukan targetnya sendiri sesuai dengan kemampuan masing-masing.

3.   Menumbuhkan harga diri peserta didik dengan menciptakan harapan untuk sukses dalam mencapai target yang ditetapkan

4.   Ciptakan hubungan yang hangat dengan peserta didik, dengan mengenal namanya.

5.   Menggunakan metode mengajar yang inovatif dengan menggunakan alat peraga.

6.   Kembangkan sistem among yang menempatkan peserta didik sebagai subjek dengan memberikan pendapat. Guru bersikap tut wuri handayani.

7.   Salurkan minat dan kegemaran peserta didik dalam berbagai kegiatan

8.   Gunakan bahasa remaja dan dibubuhi gurauan ringan yang merangsang peserta didik untuk selalu relaks.

9.   Bentuk kelompok-kelompok belajar.

Sementara itu guru juga akan dihadapkan pada situasi kelas dimana sebagian peserta didiknya bermasalah yaitu enggan belajar dan sulit memulai belajar, seperti yang disarankan oleh Muchlas Samani (2000;147) sebagai berikut:

1.   Susun target jangka pendek yang sesuai dengan kemampuannya, hal ini bertujuan untuk belajar merasakn kesuksesan dan poenanaman rasa percaya diri

2.   Ajak peserta didik untuk menuliskan target bantu untuk mencapainya

3.   Sesuaikan situasi belajar dengan minat peserta didik sehingga terdorong untuk aktif mengerjakannya

4.   Hindari kritik, karena kritik akan menurunkan rasa percaya diri

5.   Berikan inisiatif dalam bentuk hadiah pujian, sanjungan dll

6.   Lakukan konseling sehingga dapat diketahui sebab keengganannya.

NAESP (1997) menambahkan lagi tapi yang berkaitan dengan umpan balik yang dianggap sangat penting dalam pembelajaran yang diberikan secara bias agar tidak mematahkan semangat siswa. Beberapa cara yang dianggap bisa ditempuh yaitu:

1.      Berikan segera penghargaan jika peserta didik mencapai kesuksesan tertentu.

2.   Berikan jalan keluar dan contoh langkah, pemecahan dalam bentuk saran jika peserta mengalami kesulitan.

3.      Jangan memberikan bantuan secara langsung.

 

     KONSEP IMPLEMENTASI MINAT DAN MOTIVASI PESERTA DIDIK

     DALAM   PEMBELAJARAN SAINS

Bedasarkan hasil kajian pada bahasan konsep pengembangan minat dan motivasi dalam pembelajaran, bahwa kunci keberhasilan untuk meningkatkan, membangkitkan dan mengembangkan minat akan dan motivasi peserta didik tiada lain berada ditangan guru yang inovatif, kreatif dan efektif. “Guru yang bisa mewujudkan hal tersebut disebut guru professional”.

Guru profesional dalam koridor sains merupakan sosok guru sains yang mampu menerapkan pengetahuannya kedalam pengajaran sains melalui inquiri dan penyelidikan, hal itu senada dengan yang dikatakan oleh National Science Education Standard/NRC, (1996:62) sebagai berikut, bahwa untuk pembelajaran inquiri pada tingkatan manapun, guru sains perlu membimbing, mengerahkan, memfasilitasi dan memacu peserta didik. Guru berperan sebagai fasilitator dengan cara memotivasi peserta didik dengan mencontohkan model keterampilan penyelidikan sains agar siswa memiliki keingintahuan, keterbukaan terhadap gagasan baru dan data serta skeptisme sains. Ditambahkan lagi oleh Trowbridge et.al (1981) dia mengemukakan eratnya hubungan inquiri dengan bertanya dan dapat disajikan dengan demonstrasi, experimen, penyelidikan dan diskusi guru sains untuk mampu menerapkan pengetahuannya guna kearah peningkatan, dan pengembangan minat dan motivasi belajar peserta didik diperlukan pengetahuan tentang kemampuan dasar bekerja ilmiah (KDBI).

Menurut Nuryani Y Rustaman, KDBI dianggap sebagai perluasan Keterampilan Proses Ilmiah (KPI) yang dapat mengembangkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional yang mencakup sikap dan nilai ilmiah dan untuk mencapai itu diperlukan kemampuan generik dari seorang guru.

Dilengkapi lagi oleh Brotosiswoyo, Siema dan Yunita, bahwa kemampuan generik dalam sains dilingkungan pendidikan dasar, menengah dan tinggi mencakup :

a)     Kemampuan membaca dan menggunakan bahasa simbolik,

b)     Membangun konsep,

c)      Membangun model matematika,

d)     Mengevaluasi kebenaran data,

e)     Menggunakan inferensi logis,

f)        Memahami hukum sebab akibat,

g)     Menyelesaikan masalah kuantitatif,

h)      Melakukan penelitian langsung tidak langsung,

i)        Kesadaran akan skala besaran

Penguasaan pengetahuan KDBI dan kemampuan generik yang aplikatif pada seorang guru tentu akan berdampak pada pola perubahan sikap, perilaku, minat dan motivasi belajar peserta didik. Menurut Krench (1982) faktor yang berpengaruh pada perubahan perilaku, minat dan motivasi belajar peserta didik, guru dalam melakukan pengajaran pada:

1.      Interes diri individu

2.      kepribadiannya 

3.      informasi yang diterima

4.      kerja kelompok

5.      lingkungan yang mendukung

6.      penerapan konstruktivisme dari hasil

a)     penelitian pembelajaran sains

b)     hand-on dan mind-on activitas

Hasil dari tersebut diharapkan peserta didik akan mendapatkan kualitas pengetahuan, cara kerja, pola pikir yang kritis, kerja sama, aktualisasi diri, keterampilan berkomunikasi, dan kemandirian.

  

    IMPLIKASI TINDAKAN GURU DI KELAS

Dari uraian pada konsep implementasi minat dan motivasi peserta didik dalam pembelajaran sain sangat jelas seorang guru yang professional harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan tindakan untuk mengembangkan minat, motivasi peserta didik. Namun demikian bukan itu saja, melainkan guru juga dituntut untuk melakukan tindakan yang dapat membangkitkan minat dan motivasi. Adapun tindakan yang dapat dilakukan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar antara lain:

1.   Berikan insentif jika siswa belajar. Insentif yang dapat diberikan ke siswa tidak selalu harus berupa materi, tapi bisa juga berupa penghargaan dan perhatian. Pujilah siswa saat ia mau belajar tanpa mesti disuruh (peristiwa ini mungkin jarang terjadi, tapi jika saat terjadi guru memperhatikan dan menunjukkannya, hal tersebut bisa menjadi insentif yang berharga buat siswa).  Pujian selain merupakan insentif langsung, juga menunjukkan penghargaan dan perhatian guru terhadap siswa. Siswa seringkali haus perhatian dan senang dipuji. Jadi daripada memberikan perhatian ketika siswa tidak mau belajar dengan cara marah-marah, dan ketika belajar tanpa disuruh guru tidak memberikan komentar apapun, atau hanya komentar singkat tanpa kehangatan, akan lebih efektif perhatian guru diarahkan pada perilaku-perilaku yang baik.

2.     Terangkan dengan bahasa yang dimengerti siswa, bahwa belajar itu berguna. Bukan sekedar supaya raport tidak merah, tapi misalnya dengan mengatakan “Kalau siswa rajin belajar dan jadi pintar, nanti kalau sudah dewasa mampu mengatasi masalah dengan cepat, dapat mendapatkan rezki dari kepintarannya, atau mungkin tidak dibilang telmi oleh teman-temannya dan mungkin dapat membawa nama baik keluarganya.

3.  Sering mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang dilakukan di luar sekolah pada anak (bukan dalam keadaan mengintrograsi  siswa, tapi misalnya sembari melihat pekerjaan siswa, ajak bicara tentang kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan di luar sekolah. Berikan komentar “hebat”, “wah bagus sekali kamu” atau lainya bila yang dilakukan siswa memang baik. Dan jangan lupa juga berikan komentar tentang solusi-solusi bila di dalam cerita anak terdapat masalah.

4.  Mensetting suasana belajar lebih menyenangkan. Jika setiap kali pembicaraan mengenai PBM berakhir dengan omelan-omelan, ia akan mengasosiasikan suasana belajar sebagai hal yang tidak memberi perasaan menyenangkan pada siswa, dengan demikian guru yang terbiasa dengan omelan akan dihindari oleh siswa buatlah trik-trik siswa menjadi betah didalam kelas bisa jadi keluarkan joke-joke yang bias membuat anak menjadi tertawa.

 

C.   PENUTUP

Minat dan motivasi belajar merupakan suatu landasan yang meyakinkan guna keberhasilan suatu proses pembelajaran. Minat dan motivasi belajar yang tinggi akan memusatkan perhatian yang intensif terhadap materi pelajaran sehingga belajar akan lebih giat, akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan. Jika peserta didik memiliki keinginan belajar yang kuat maka akan dengan cepat pula mengerti dan mengingat materi yang disampaikan pengajar.

Pengajar berhasil membina kesediaan belajar peserta didiknya, berarti telah melakukan hal yang terpenting. Pengajar sekarang dan kedepan harus inovatif, kreatif, senantiasa mampu melebarkan mata dan telinga serta rajin membaca tentang pembelajaran yang menggairahkan dan menyenangkan, akan membuat seorang pengajar kaya raya akan kata, pengetahuan, kreativitas yang berdampak terciptanya model-model pembelajaran alternatif yang cocok dengan lingkungan tempat kerjanya.

Sebagai guru professional diharapkan tidak saja mengerti akan konsep atau teori saja tetapi guru harus mampu menjabarkan teori yang ada, mampu mengaplikasikan dengan tindakan. Orang bijak berkata “Pintar saja tidak cukup.”  “Mampu saja tidak cukup”  dan “Mau saja juga tidak cukup” Guru professional harus Tahu, mampu dan mau bertindak” demi kemajuan anak didiknya.

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

Bell Gredler, Margaret E (1991). Belajar dan Membelajarkan Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No.11. Cv. Rajawali. Jakarta

Brotosiswoyo, BS (2002). Hakikat Pembelajaran MIPA dan Kiat Pembelajaran Fisika di Perguruan Tinggi. Pengembangan Universitas Terbuka. Depdiknas. Jakarta.

Darajat, zakiah. (1982). Kepribadian Guru. Bulan Bintang. Jakarta

Hierlock, Elizabeth B, (1981). Child Development. Mc. Graw Hill International Book Company. Singapura

J.P Gulford. (1969). Personality. Mc. Graw Hill Book Company. New York.

Lester D, Crow & Crow (1973). Educational Psycology. American Book Co, New York.

NAESP (1977). Principal’s Survival Kit: Practical Information on Critical Issues for Elementary and Middle School Leaders. Alexandria. NAESP

NRC. (2001) Inquiry and the National Science Education Standards :        Washington DC: National Academy Press. Tersedia: http//books.nap.edu/html/inquiryaddendum/notice.html

Rustawan, Nuryani Y. (2007). Kemampuan Dasar Bekerja Ilmiah dalam Pendidikan Sains dan Assesmensnya. Makalah UPI Bandung.

Samani, Muchlas (2002). Panduan Menejemen Sekolah. Depdiknas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta

 

Skinner, Charles E. (1977). Educational Psycology. Prenticl Hall Of India Private Limited. New Delhi

Syah, Muhibin. (1995). Psikology Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Remaja, Rosdakarya. Bandung

Trowbridge, LW, Sund, RB (1981) Teaching Science by Inquiry In Secondary School. 3nd. Ed. Columbus, Ohio: Charles E. Meriil

 

 

Iklan